Phillip Securities Indonesia Newsletter
Visit Website
VISIT US
About Us
FREE TRIAL
Services
PRODUCTS
Contact Us
CONTACT US
 
Logo Logo
Learn More

MINIM PENGETAHUAN, INVESTOR INDONESIA TAKUT JAJAL PASAR SAHAM

Upaya Bursa Efek Indonesia bersama perusahaan sekuritas untuk melakukan edukasi pasar modal kepada masyarakat bisa dibilang cukup berhasil. Saat ini, saham bukan lagi instrument investasi yang asing bagi masyarakat. Sayangnya, meningkatnya jumlah masyarakat yang mengenal saham tidak sejalan dengan minat terhadap perdagangan dan investasi saham.

Jumlah perusahaan sekuritas yang banyak, di pasar yang masih kecil, membuat perusahaan sekuritas untuk mau tidak mau turut berusaha memperbesar pasar. Dorongan untuk memperbesar pasar inilah yang mendorong semakin gencarnya edukasi dan sosialisasi perdagangan saham ke masyarakat. Perusahaan sekuritas ingin membentuk persepsi perdagangan saham sebagai sesuatu yang aman.

Di lain sisi, masyarakat saat ini semakin ‘canggih’. Beragam produk keuangan yang ditawarkan oleh lembaga keuangan turut membuka mata masyarakat akan adanya pilihan investasi lain selain emas dan tanah. Didukung dengan upaya edukasi dari perusahaan sekuritas, calon investor semakin memiliki keberanian untuk melakukan perdagangan saham.

Kebutuhan masyarakat akan alternatif investasi baru menjadi peluang bagi perkembangan perdagangan saham oleh investor retail. Peningkatan komposisi investor retail dari tahun 2007 sampai tahun 2009 menunjukkan bahwa kepercayaan diri masyarakat untuk melakukan perdagangan saham secara langsung semakin meningkat. “Bahkan, riset yang dilakukan MarkPlus Insight menunjukkan bahwa semakin banyak masyarakat yang berminat untuk melakukan perdagangan saham dibandingkan membeli reksadana,” kata Taufik, Chief Operating Officer MarkPlus Insight.

Frekuensi perdagangan saham yang meningkat juga menunjukkan bahwa investor retail semakin berani melakukan perdagangan saham. Investor retail tidak lagi hanya ‘buy and hold’. Rekomendasi-rekomendasi yang diberikan oleh analis telah berhasil membantu investor retail dalam membantu keputusan mereka melakukan jual atau beli, sehingga frekuensi perdagangan pun semakin meningkat.

Tidak hanya jumlah investor retail yang berkembang, jumlah emiten di pasar modal juga turut meningkat. Pada tahun 2011, tercatat ada 25 perusahaan yang melakukan IPO. Namun, tetap saja jumlah emiten saat ini, yang berkisar di angka 450, masih dinilai kecil. Otoritas Jasa Keuangan, sebagai regulator lembaga keuangan, terus berupaya melakukan perbaikan undang-undang dan pengawasan perdagangan saham untuk terus menarik emiten baru.

Sayangnya, kata saham yang terdengar seksi dan semakin dikenal masyarakat tidak serta merta mendorong minat masyarakat untuk ikut dalam perdagangan saham. Sebagian besar masyarakat paham bahwa saham bisa menjadi salah satu alternatif untuk investasi, bahkan sebagai penghasilan tambahan. Namun pemahaman dan pengetahuan yang terbatas mengenai investasi dan perdagangan saham menjadi kendala bagi masyarakat untuk ikut dalam perdagangan saham.

Sudah tertanam dalam pikiran masyarakat bahwa saham adalah investasi dengan nilai pengembalian yang besar namun juga dengan resiko yang besar. Hal ini menyebabkan calon-calon investor retail baru untuk berpikir berulang kali sebelum melakukan investasi dan perdagangan saham. “Ketidakpercayaan diri terhadap pengetahuan mereka tentang investasi dan perdagangan saham membuat mereka semakin ragu,” katanya. Sekadar catatan, hingga semester pertama 2013, jumlah investor Bursa Efek Indonesia hanya bertengger di angka 500.000 orang.

Sebuah hal yang menarik, meskipun volume frekuensi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun, sekitar 75% dari total nilai transaksi perdagangan merupakan perdagangan dari 50 emiten dengan nilai kapitalisasi terbesar. Hal ini menunjukkan bahwa investor cenderung memilih saham-saham yang popular.

Fenomena ini juga menjadi indikasi adanya kecenderungan investor retail untuk mengikuti tindakan investor lain dalam perdagangan saham. Rekomendasi ‘buy’, ‘sell’, ‘hold’ yang diberikan oleh analis menjadi dasar pertimbangan utama dalam keputusan perdagangan mereka. Sayangnya tidak banyak investor retail yang benar-benar peduli mengapa suatu saham mendapat rekomendasi buy/ sell/ hold.

Tindakan ‘ikut-ikutan’ ini akibat dari terbatasnya informasi kinerja emiten yang diberikan oleh analis dan perusahaan sekuritas. Analisa-analisa kinerja emiten sebagian besar hanya memasukkan informasi mengenai kinerja keuangan aktual emiten. Strategi pengembangan serta potensi perkembangan ke depan jarang sekali dimasukkan sebagai analisa dalam memberikan rekomendasi. “Meningkatnya minat perdagangan saham belum diikuti dengan kesiapan dan jumlah analis untuk memberikan analisa rekomendasi yang mendalam. Terbatasnya jumlah analis yang berpengalaman juga menjadi salah satu sebab makin maraknya trend ‘ikut-ikutan’ dalam keputusan perdagangan saham. Apalagi jumlah emiten yang cukup banyak dengan jenis industri yang beragam semakin memperumit analisa yang harus dilakukan oleh analis,” kata Taufik.

Sumber: www.the-marketeers.com

© Copyright 2014 Phillip Securities Indonesia. All Rights Reserved.
www.phillip.co.id | customercare@phillip.co.id | Tel: (+62-21) 57 900 900
FacebookTwitterYoutubeDribbleYoutube