Visit Website
VISIT US
About Us
FREE TRIAL
Services
PRODUCTS
Contact Us
CONTACT US
 
EDITION NO. 22
July 2, 2014
Logo Logo
Learn More
 

 

 

First State Investments Indonesia - bergabung di "Phillip Reksadanaku"

First State Investments Indonesia yang biasa disebut dengan FSI Indonesia, adalah salah satu Manajer Investasi Asing yang ada di Indonesia, dengan total dana kelolaan lebih dari Rp 3 Triliun .
Data terlampir :

(sumber : ojk.go.id)

Per tanggal 23 Juni 2014, FSI Indonesia telah resmi bekerja sama dengan PT Phillip Securities Indonesia dalam penyediaan reksadana-reksadana pilihan yang kinerja kerjanya tidak kalah dengan reksadana-reksadana milik Manajer Investasi lainnya, di antaranya adalah reksadana First State Indonesian Bond Fund (Pendapatan Tetap), First State IndoEquity Sectoral Fund (Saham), First State Indonesian Balanced Fund (Campuran).

FSI Indonesia adalah bagian dari First State Investments, di mana First State Investments adalah perusahaan manajer investasi berskala global dengan pengalaman di berbagai kelas aset dan sektor.
Pemegang saham First State Investments adalah Commonwealth Bank of Australia dan di Australia First State Investments beroperasi sebagai Colonial First State Global Asset Management (CFSGAM). First State dan CFSGAM secara kolektif mengelola US$156,9 milyar* (per 31 March 2014) atas nama investor di seluruh dunia.
First State Investments memiliki kantor di berbagai lokasi: London, Edinburgh, Paris, Frankfurt, Hong Kong, Singapura, Tokyo, Jakarta, Dubai, New York, Sydney, Melbourne dan Auckland. Keberadaan First State Investments di Beijing dan Shenzhen diwakili oleh First State Cinda, sebuah perusahaan patungan yang dibentuk bersama China Cinda Asset Management Corporation.

Beberapa reksadananya yang patut menjadi pilihan karena sudah mendapatkan penghargaan bergengsi, adalah :

(sumber : http://www.firststateinvestments.com)

Segera login di www.poems.co.id untuk dapat berinvestasi reksadana First State Investments Indonesia secara online di Reksadanaku.

(Sumber: Business Development Division - PSI)

 

Perencanaan Pensiun Buruk = Kesulitan Hidup

di Masa Depan

Bagi kebanyakan orang Asia, perbedaan antara ekspektasi jumlah simpanan hari tua dengan kebutuhan pensiun yang sebenarnya berpotensi menimbulkan kesulitan hidup di masa depan.

Menurut Manulife Investor Sentiment Index1, survey yang dilakukan di 7 negara Asia termasuk Indonesia, rencana pensiun merupakan prioritas tertinggi kebanyakan investor di Asia. Sayangnya, banyak orang yang menunda mempersiapkan dana hari tua ini hingga akhirnya terlambat. Bahkan, hampir setengah dari responden menyatakan bahwa mereka belum memiliki rencana finansial untuk masa pensiunnya sama sekali. Hasilnya, banyak orang mengandalkan dukungan anak-cucu atau terpaksa tetap bekerja setelah melewati masa pensiun. Faktanya, opsi-opsi ini belum tentu dapat diandalkan. Mereka yang memutuskan untuk terus bekerja melampaui usia pensiun harus berhadapan dengan risiko kesehatan yang kian menurun. Sementara mereka yang berharap anak-cucu akan menghidupi dirinya perlu mempertimbangkan kemampuan si anak-cucu dalam menghadapi tantangan finansial demi menghidupi diri dan orang-orang yang menjadi tanggungannya. Mengejar ketinggalan yang disebabkan penundaan pada perencanaan hari tua jauh lebih sulit daripada mulai sejak dini!

Retirement Gap

Secara rata-rata, orang Asia berharap dapat mengandalkan tabungan untuk mencukupi kebutuhan pensiun selama 19 tahun. Sayangnya, jumlah simpanan yang mereka miliki rata-rata hanya cukup untuk menghidupi mereka selama 13 tahun saja – ini berarti ada selisih 6 tahun di mana mereka tidak lagidapat mencukupi kebutuhannya. Fakta ini diperburuk dengan terus meningkatnya ekspektasi usia orang Asia, yang artinya periode kekurangan dana pensiun tersebut dapat semakin panjang, serta kecenderungan untuk menganggap enteng kebutuhan pensiun.

Banyak orang Asia yang menunda atau bahkan memutuskan untuk tidak perlu mempersiapkan pensiunnya sama sekali. Dari seluruh responden, 55% merupakan mereka yang telah mulai menjalankan rencana pensiunnya. Dari jumlah ini, seperlimanya adalah mereka yang baru sadar ketika hampir memasuki usia pensiun, dan seperempat lainnya adalah mereka yang baru mulai ketika sudah memiliki anak atau ketika anak-anaknya sudah lulus sekolah. Sedangkan 45% sisanya adalah populasi yang belum memulai rencana pensiunnya sama sekali. Hampir setengah populasi ini menyatakan bahwa mereka akan menunggu hingga anak-anak mereka lulus kuliah atau menjelang pensiun nanti. Sementara itu, seperlima lainnya menyatakan tidak perlu merencanakan hari tuanya.

 

 

Terus bekerja,mengharapkan dukungan finansial dari anak, atau mempersiapkan pensiun sendiri?

Banyak investor yang sepertinya mengandalkan faktor-faktor yang sebenarnya tidak dapat mereka kendalikan, seperti kesehatan, lapangan pekerjaan dan bantuan orang lain.Di Indonesia, 68% populasi berharap untuk dapat terus bekerja secara penuh maupun paruh waktu setelah mereka memasuki usia pensiun nanti, sementara itu sekitar 20% berharap agar anak-anaknya akan menanggung biaya hidup mereka nantinya.

Padahal dengan beragam faktor seperti menurunnya tingkat fertilitas dan jumlah anak per keluarga, orang seharusnya mempersiapkan masa tuanya dengan baik dan tidak terlalu mengandalkan dukungan finansial dari anggota keluarga lainnya.

Keberhasilan seseorang mempersiapkan kebutuhan pensiunnya sangat bergantung pada keputusannya untuk merencanakan, menyimpan uang dan berinvestasi dengan bijak. Hal ini dapat dilakukan dengan beralih dari instrumen-istrumen simpanan konvensional berbunga rendah, ke alternatif-alternatif investasi yang mampu menawarkan potensi hasil lebih tinggi, dan memungkinkan orang untuk mempertahankan atau meningkatkan daya beli, seperti reksa dana.

Manulife Investor Sentimen Indeks di Asia adalah survei eksklusif yang dilakukan Manulife setiap kuartal untuk mengukur dan melacak pandangan investor di tujuh negara di kawasan ini perihal perilaku mereka terhadap kelas aset utama dan hal-hal lain yang terkait dengan itu. Manulife ISI didasarkan pada 500 wawancara online di setiap negara yaitu Hong Kong, China, Taiwan, Jepang, dan Singapura; sementara di Malaysia dan Indonesia, survei ini dilakukan secara tatap muka langsung. Responden adalah investor kelas menengah hingga papan atas, berusia 25 tahun ke atas yang menjadi pengambil keputusan utama dalam hal-hal keuangan di rumah tangga dan saat ini sudah memiliki produk investasi. Manulife ISI merupakan seri penelitian yang telah lama dilakukan di Amerika Utara. Manulife ISI sudah mengukur sentimen investor di Kanada selama 14 tahun terakhir, dan memperluasnya ke operasinya di John Hancock AS pada tahun 2011. Kelas-kelas aset yang dipertimbangkan dalam perhitungan Manulife ISI Asia adalah saham/ekuitas, riil estat (rumah utama atau investasi properti lainnya), dana bersama/reksadana, investasi berpendapatan tetap, dan uang tunai.

 

INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. CALON INVESTOR WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

(Sumber: Manulife Investor Sentiment Index, 2014)

 



PHILLIP MORNING MARKET CALL
"Phillip Research Division"


JOIN WEBINAR KAMI:
Setiap pagi, pukul 08.30 - 08.55

WEBINAR MEMBAHAS TENTANG:

Market Review, 4Stock Movers, JCI Indication, Stocks to Watch Phillip, Relative Valuation Phillip, Technical analysis, Q&A.
Klik link dibawah untuk registrasi, kemudian masukan Email dan juga Webinar ID sesuai bulan bergabung:


WWW.JOINWEBINAR.COM

Jul 2014. Webinar ID: 152-047-163

PMMC Tema Special: Pemilu, Pemerintahan Baru, dan Pasar Saham. Silahkan saksikan di channel youtube kami.

Lihat PMMC Special Pemilu

"PENDAFTARAN GRATIS, Cukup Mendaftar 1x dalam 1 bulan"

 
© Copyright 2014 Phillip Securities Indonesia. All Rights Reserved.
www.phillip.co.id | customercare@phillip.co.id | Tel: (+62-21) 57 900 900
FacebookTwitterYoutubeDribbleYoutube