Phillip Securities Indonesia Newsletter
Visit Website
VISIT US
About Us
FREE TRIAL
Services
PRODUCTS
Contact Us
CONTACT US
 
EDITION NO. 26
September 11, 2014
Logo Logo
Learn More
 

Phillip Securities Indonesia

GRATIS PENGGUNAAN DATAFEED

(Source: Marketing Division, Phillip Securities Indonesia)

 

Phillip Research Division

Mengais Keuntungan

di Tengah Perlambatan Ekonomi Makro

Successful investing is anticipating the anticipations of others. - J.M. Keynes –

Jumlah investor di pasar modal Indonesia hingga kuartal I-2014 baru mencapai 0.17% dari total jumlah penduduk Indonesia, yang dimana sebagian besar masih didominasi oleh investor asing. Hingga pertengahan Sep-2014, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah meningkat sebesar 18.85% (ytd), dengan komposisi sekitar 62% vs 38% (saham vs obligasi) di pasar modal Indonesia.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rata-rata nilai harian pasar modal Indonesia selama semester-I tahun 2014 mencapai Rp 6.15 triliun dengan volume perdagangan sekitar 5,112 juta lembar saham per hari. Artinya terjadi kenaikan sekitar 19.36% pada volume transaksi harian dalam kurun waktu 2 tahun terakhir ini, namun sayangnya hal ini hanya dapat dirasakan oleh investor yang telah existing selama ini.  Sementara dari sisi kapitalisasi pasar, pasar modal Indonesia baru mencapai USD415 miliar (per Maret 2014), dan hanya berbeda tipis dengan pasar negara Thailand dan Filipina yang masing-masing telah mendekati USD500 miliar.


Tentu anda telah mengetahui, saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya dipatok sekitar 5.2-5.4% hingga akhir tahun 2014 (jika harga BBM tidak dinaikkan), defisit transaksi berjalan telah menjadikan ruang fiskal menjadi sangat terbatas. Di sisi lain pemerintah hanya memiliki opsi menjaga tren pertumbuhan ekonomi melalui pengeluaran Rumah Tangga (RT) dan alokasi investasi pemerintah. Dari sisi makro peluang imbal hasil terlihat mengecil, namun jika kita pelajari lebih detail, peluang tersebut masih dapat diraih jika melihat reaksi pemerintah dalam mendorong proyek MP3EI hingga akhir tahun, serta rasio DPO (dividend payout ratio) yang akan ditingkatkan untuk sebagian saham-saham BUMN.


Kapitalisasi saham-saham BUMN mencapai hampir 30% dari total keseluruhan kapitalisasi BEI, sedangkan banyak perusahaan-perusahaan BUMN yang tersebar di sektor-sektor seperti keuangan, perdagangan, jasa & investasi yang jika dijumlahkan total-nya mencapai sekitar 60.84% dari seluruh sektor industri di BEI. Kenaikan saham-saham BUMN tentunya secara otomatis akan mempengaruhi pergerakan IHSG, dengan penyebaran perusahaan-perusahaan BUMN pada sektor-sektor seperti keuangan, infrastruktur dan dengan melihat potensi skala proyek pemerintah pada MP3EI dan rasio DPO yang kemungkinan akan ditingkatkan, kami melihat indikasi yang positif terkait hal ini. Pada gambaran lain,  pergerakan IHSG diprediksi akan mencapai level 5,300-5,350 hingga akhir tahun 2014, mengingat tingkat inflasi di akhir 2014 yang diprediksi mencapai level 7.5-8% maka alokasi investasi pada portfolio saham sangat disarankan.

(Penulis : Aditya Perdana Putra M.M. , Economist & Equity Analyst Phillip Securities Indonesia)

 

The Fund, AmObligasi JIBOR 1 Year Plus as per Sep 10, 2014

(Source: PT AMCI Manajemen Investasi Indonesia)

Pengaruh Watak

Pengantar

Para investor cenderung melakukan perilaku dan emosi-emosi yang dapat mengarah kepada keputusan-keputusan investasi yang buruk. Salah satu jebakan yang paling umum adalah kecenderungan untuk menjual investasi yang naik nilainya dan mempertahankan investasi yang turun nilainya. Ditahun 1985 dua akademisi Shefrin dan Statmen, mempelajari perilaku dan mengistilahkannya ‘pengaruh watak’.
Pengaruh watak’ secara cepat menghancurkan nilai dengan dua cara. Pertama, seorang investor kehilangan pengembalian suatu aset yang meningkat. Kedua, mereka tetap mempertahankan investasi yang jatuh nilainya. Tentu saja jika seorang investor menjual semua yang menang dan menahan yang kalah pada akhirnya mereka hanya berhenti dengan portfolio yang kalah semuanya.
Tentu saja hampir tidak mungkin menghindari kerugian samasekali, tetapi mungkin untuk menguranginya. Memangkas kerugian rupanya menjadi hal yang wajar sekali, tetapi ternyata tidak seumum itu daripada yang anda pikirkan.

Studi kasus

Januari tahun 2013 David memulai tahun baru dengan menginvestasikan $10,000 dalam Saham A dan $10,000 dalam Saham B, 6 bulan berlalu dan Saham A telah berkinerja dengan baik, meningkat hingga 31%. David sangat gembira dengan pengembalian ini dan tidak berpikir bahwa harga saham akan meningkat lebih lanjut. Ia menjual saham-sahamnya memperoleh keuntungan $3,100 dan memperoleh kepercayaan yang lebih besar dalam kemampuannya untuk memilih saham-saham yang berkinerja.

Sementara itu Saham B yang dipegang oleh David turun nilainya 25% selama 6 bulan. Ia tidak percaya akan nasibnya yang buruk tetapi mengihbur diri bahwa itu hanya merupakan ‘kerugian diatas kertas’. Ia tetap mempertahankan saham itu karena ia tidak dapat mengerti kerugiannya dan percaya bahwa harga sahamnya akan melompat kembali ke harga awal ia membelinya.
Kita melompat kedepan ke Maret 2014, dan David masih tetap mempertahankan Saham B-nya. Karena saham itu berkinerja buruk, ia kehilangan perhatian dan mengabaikan untuk memantau investasinya.
Celakanya, harga Saham B tetap terus jatuh dan investasi David sekarang hanya bernilai $5,035. Sekalipun setelah memperhitungkan keuntungan yang ia dapat dari penjualan Saham A, ia masih tetap menghadapi kerugian netto sebesar $1,865. Keadaan diperburuk Saham A naik dengan 262% setelah David menjual saham-sahamnya. David menyesali diri sendiri atas kehilangan pengembalian itu.
Dalam suatu skenario yang berbeda, jika David sebaliknya menjual Saham-saham B- nya dan mempertahankan Saham A-nya sekarang akan bernilai sebesar $48,841. sekalipun memperhitungkan kerugian yang terjadi dari penjualan Saham B, ia akan masih tetap meraih keuntungan bersih lebih dari $31,000 dari investasi awalnya sebesar $10,000.
Ini merupakan suatu contoh gambaran apa yang dapat terjadi jika anda menjual saham yang sedang menang terlalu dini dan mempertahankan saham yang melemah terlalu lama. Tentu saja pokok yang sama berlaku terhadap semua investasi apakah saham individual atau suatu portfolio investasi.

Apa yang salah? David jatuh ke dalam beberapa jebakan umum ketika mengelola investasinya. Mencoba untuk meraih yang tertinggi Banyak investor menjual saham-saham mereka ketika mereka berpikir bahwa mereka telah mencapai harga maksimum dan satu satunya jalan adalah turun. Dalam contoh ini David berpikir bahwa harga Saham A tidak akan dapat naik lebih tinggi setelah naik 31% dalam waktu 6 bulan - suatu pengembalian yang luar biasa. Akan tetapi, harga masa depan suatu saham samasekali tidak berkaitan dengan harga pembeliannya. Bias yang disebabkan oleh diri sendiri Menyelamati diri anda sendiri atas kemampuan memilih saham ketika saham-saham naik dan menyalahkan ‘nasib sial’ ketika saham-saham turun disebut ‘bias yang disebabkan oleh diri sendiri’. Banyak dari antara kita melakukan kesalahan ini. Bias mempercayai-diri mengarah kepada kepercayaan terlalu tinggi dalam kemampuan berinvestasi dan menghalangi investor mencari nasihat profesional. Penolakan Jika suatu investasi menjadi buruk, banyak investor menghibur diri dan menghindar mengakui adanya kesalahan dengan memandangnya hanya sebagai ‘kehilangan di atas kertas’. Akan tetapi kehilangan diatas kertas juga sama pentingnya sebagai suatu kerugian yang nyata. Para investor seringkali bersedia untuk merealisasikan perolehan tetapi enggan untuk merealisasikan kerugian-kerugian. Ini merupakan sebab yang mendasar dari efek disposisi.

INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. CALON INVESTOR WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

(Source: First State Investments Indonesia)

Kelalaian
Ketika pasar pasar saham naik, banyak investor senang memperhatikan nilai investasi mereka bertumbuh dan sangat menaruh perhatian. Ketika investasi menurun, hal yang sebaliknya terjadi. Adalah penting sekali untuk selalu memantau dan mengelola investasi-investasi anda dengan tak memandang akan keadaan-keadaan pasar.
Biaya Kesempatan
Biaya kesempatan adalah harga yang dibayar untuk mengikuti suatu pilihan atas pengeluaran yang lain. Dalam studi kasus ini David telah meneruskan kesempatan memegang suatu saham yang naik nilainya dengan tetap berpegang pada Saham B.
Titik Impas
Setelah suatu investasi nilainya jatuh, banyak investor bertahan sampai nilainya kembali kepada harga pembelian, dengan pengertian mereka akan mencapai titik impas dan menghapus kesalahan mereka. Namun sialnya, hal ini tidak pernah terjadi. Dalam kasus studi di atas, Saham B harus naik 100% untuk pengembalian terhadap apa yang dibayar oleh David 2 tahun sebelumnya. Banyak pemegang saham tidak pernah memperoleh kembali keuntungan tinggi mereka yang sebelumnya.
Menghindari jebakan-jebakan
Banyak investor menyabotase kesuksesan investasi mereka sendiri tanpa menyadarinya. Salah satu cara untuk menghindari ini ialah mengenali dan mengerti perilaku dan emosi-emosi yang dapat menuju kepada keputusan investasi yang buruk.
Berinvestasi jangka panjang dalam dana yang dikelola secara profesional merupakan cara terbaik guna menghindari jebakan-jebakan umum. Para manajer dana yang berpengalaman secara tipikal menggunakan lebih banyak disiplin terhadap proses investasi mereka jadi sedikit mengurangi keputusan emosional mereka daripada para investor yang berpegang pada saham secara langsung.

*Informasi diperoleh dari sumber-sumber yang dipercayai oleh First State Investments (“FSI”) dapat dipercaya dan akurat pada saat diterbitkan tetapi tidak ada pernyataan atau jaminan, dinyatakan atau tersirat, mengenai kewajaran, ketepatan, kelengkapan atau kebenaran informasi. Baik FSI, maupun asosiasi-asosiasi nya, juga tidak direktur, pejabat atau pegawai menerima tanggung jawab apa pun atas kerugian apa pun yang timbul baik secara langsung atau tidak langsung dari penggunaan dokumen ini.

 

Be a Smart Investor

With Phillip Securities Indonesia

Perkembangan investasi dewasa ini telah demikian pesatnya di Indonesia. Sedangkan perkembangan dari pasar modal itu sendiri tidak terlepas dari semakin meningkatnya awareness dan  tingkat pendapatan dari masyarakat itu sendiri. Diantara semua jenis Investasi , investasi Saham merupakan salah satu jenis investasi yang lebih populer dalam perdagangan di pasar modal. Hal ini sebagian besar dikarenakan ada anggapan bahwa  potensi  pendapatan (return) yang akan diterima investor dapat lebih besar dibanding jenis investasi lainnya. Namun demikian seorang investor hendaknya memiliki 2 (dua) hal yang menjadi pertimbangan disaat pengambilan keputusan dalam berinvestasi saham yaitu pendapatan yang diharapkan (expected return) dan risiko (risk) dari dana investasinya. Investor hendaknya menyadari bahwa tingkat hasil investasi dan risiko investasi yang berbanding lurus, artinya, semakin besar hasil investasi maka akan semakin besar pula risiko investasi yang mungkin saja terjadi. Namun tentu saja resiko tersebut dapat diminimalisir dengan senantiasa menambah kemampuan dalam menganalisa sebuah saham dan menggunakan berbagai fitur dalam online trading seperti trailing stop, smart safe dan smart order untuk memaksimalkan keuntungan dan meminimumkan kerugian. Bagi masyarakat awam yang ingin memulai berinvestasi saham, maka akan timbul beberapa pertanyaan seperti :

  1. ·         Bagaimana cara menentukan saham yang bagus untuk dibeli?
  2. ·         Kapan harus beli dan kapan Anda harus menjual?
  3. ·         Bagaimana cara meminimumkan resiko investasinya?
  4. ·         Dan berbagai pertanyaan lainnya.

Untuk menjawab berbagai pertanyaan tersebut, Phillip Securities Indonesia (PSI) berinisiatif untuk memberikan edukasi mengenai bagaimana cara bertransaksi saham yang baik dan benar secara gratis, baik kepada nasabah maupun non-nasabah PSI. Untuk itu kami mengadakan program “Phillip Goes to Office” yang yang terbuka bagi siapa saja. “Phillip Goes to Office” adalah sebuah program edukasi mengenai technical analysis, fundamental analysis, dan market outlook. Para peserta dapat  berdiskusi dengan tim Phillip Securities Indonesia jika memiliki pertanyaan seputar kondisi pasar modal. Keunggulan mengikuti Phillip Goes to Office:

  1. ·         Mendapatkan edukasi technical analysis, fundamental analysis, dan market outlook
  2. ·         Berkesempatan untuk diskusi langsung dengan tim Phillip Securities Indonesia
  3. ·         Seluruh peserta mendapatkan lunch/snack

Kegiatan Phillip Goes to Office ini dilakukan dengan mengunjungi kantor ataupun tempat lain yang memadai.Ajak serta rekan - rekan kerja atau komunitas anda dan tambah pengetahuan anda di bidang pasar modal dengan mendaftarkan kantor atau komunitas anda dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:

  1. ·         Minimal peserta 10 orang
  2. ·         Pemberitahuan minimal 2 minggu sebelumnya

Pendaftaran atau Informasi lebih lanjut silahkan email ke heru.permana@phillip.co.id atau faneysa@phillip.co.id

(Source: Marketing Division, Phillip Securities Indonesia)

 


PHILLIP MORNING MARKET CALL
"Phillip Research Division"


JOIN WEBINAR KAMI:
Setiap pagi, pukul 08.30 - 08.55

Klik link dibawah untuk registrasi, kemudian masukan Email dan juga Webinar ID sesuai bulan bergabung:


WWW.JOINWEBINAR.COM

Sep 2014. Webinar ID: 133-914-611

"PENDAFTARAN GRATIS, Cukup Mendaftar 1x dalam 1 bulan"

 
© Copyright 2014 Phillip Securities Indonesia. All Rights Reserved.
www.phillip.co.id | customercare@phillip.co.id | Tel: (+62-21) 57 900 900
FacebookTwitterYoutubeDribbleYoutube